Kamus Arab sebagai Penjaga Bahasa dan Ilmu
Bagi pelajar bahasa Arab, kamus sering dianggap sekadar alat bantu mencari arti kata. Padahal, dalam sejarah keilmuan Islam, kamus bahasa Arab memiliki kedudukan jauh lebih penting. Ia bukan hanya daftar kosakata, tetapi juga perangkat ilmiah untuk menjaga kemurnian bahasa, memahami Al-Qur’an dan hadis, menafsirkan syair Arab, serta merawat warisan intelektual selama berabad-abad.

Dalam tradisi Arab, kamus sering disebut mu‘jam atau qāmūs. Istilah mu‘jam berkaitan dengan upaya menjelaskan kata yang samar atau belum jelas, sedangkan qāmūs pada awalnya berarti laut atau samudra, lalu menjadi populer sebagai sebutan kamus setelah karya besar al-Fairuzabadi berjudul al-Qāmūs al-Muḥīṭ dikenal luas. Saehudin (2005) menjelaskan bahwa istilah mu‘jam dan qāmūs kemudian sama-sama digunakan untuk menyebut buku yang menghimpun kosakata beserta penjelasan maknanya.
Menariknya, tradisi penyusunan kamus Arab tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari kebutuhan keagamaan, kebahasaan, sosial, dan ilmiah. Semakin luas wilayah Islam, semakin banyak pula orang non-Arab yang masuk Islam dan mempelajari bahasa Arab. Situasi ini membuat kebutuhan terhadap rujukan kosakata menjadi semakin mendesak.
Mengapa Kamus Bahasa Arab Mulai Disusun?
Pada masa Nabi Muhammad saw., persoalan makna kata dalam Al-Qur’an dapat langsung ditanyakan kepada beliau. Setelah Nabi wafat, para sahabat menjadi rujukan. Di antara sahabat yang terkenal dalam menjelaskan makna kata-kata asing atau sulit dalam Al-Qur’an adalah Abdullah ibn Abbas. Tradisi penjelasan kata-kata sulit inilah yang kemudian menjadi salah satu akar awal leksikografi Arab.
Zaini (2004) menegaskan bahwa penyusunan kamus Arab sangat erat hubungannya dengan kebutuhan memahami Al-Qur’an. Bahasa Arab dipilih sebagai bahasa wahyu, dan karena itu umat Islam merasa perlu menjaga ketepatan maknanya.
Selain faktor keagamaan, ada juga faktor sosial. Setelah Islam menyebar ke luar Jazirah Arab, bahasa Arab berinteraksi dengan bahasa Persia, Suryani, Yunani, Koptik, Berber, dan bahasa-bahasa lain. Interaksi ini memperkaya bahasa Arab, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap perubahan dan kerusakan bahasa.
Lihat juga: Penerjemah pada Masa Renaisans, Jembatan Ilmu yang Mengubah Peradaban Eropa
Springer Reference menjelaskan bahwa sejarah awal leksikografi Arab berkaitan erat dengan penyebaran Islam dan kajian filologi terhadap Al-Qur’an. Ciri morfologi bahasa Arab yang berbasis akar kata juga sangat memengaruhi desain kamus Arab sejak masa awal (Hassanein, 2017).
Dengan demikian, kamus arab lahir bukan hanya karena kebutuhan praktis mencari arti kata, tetapi juga karena kebutuhan menjaga bahasa wahyu, memahami teks klasik, dan membangun tradisi ilmu.
Al-Khalil ibn Ahmad dan Lahirnya Kamus Sistematis
Nama paling penting dalam sejarah awal kamus bahasa Arab adalah al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Ia hidup pada abad ke-8 M dan dikenal sebagai ahli bahasa, ahli arudh, ahli fonologi, dan tokoh besar mazhab Basrah. Encyclopaedia Britannica menyebut al-Khalil sebagai filolog Arab yang menyusun kamus bahasa Arab pertama dan merumuskan kaidah prosodi Arab (Britannica Editors, n.d.).
Karyanya yang paling terkenal adalah Kitāb al-‘Ayn. Arabic Collections Online dari NYU juga mencatat al-‘Ayn sebagai kamus bahasa Arab pertama yang disusun oleh al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (NYU Libraries, n.d.).
Mengapa dinamakan al-‘Ayn? Karena al-Khalil memulai penyusunan kamusnya dari huruf ‘ayn, bukan dari alif seperti urutan alfabet Arab yang dikenal sekarang. Pilihan ini bukan kebetulan. Al-Khalil menyusun kamusnya ini berdasarkan makhraj huruf, yaitu tempat keluarnya bunyi huruf. Dalam sistem fonetiknya, huruf ‘ayn dianggap sebagai salah satu bunyi paling dalam dari tenggorokan.
Zaini (2004) menjelaskan bahwa metode al-Khalil sangat khas karena menggabungkan pendekatan fonetik dan taqlīb, yaitu pembalikan atau permutasi huruf akar untuk menemukan kemungkinan bentuk kata. Dengan cara ini, al-Khalil tidak hanya mencatat kata yang sudah umum, tetapi juga memetakan kemungkinan struktur kata bahasa Arab secara sistematis.
Inilah kejeniusan al-Khalil. Ia tidak sekadar mengumpulkan kata. Ia membangun sistem.
Periode Awal, Dari Kata-Kata Gharib ke Kamus Tematik
Sebelum kamus besar seperti al-‘Ayn muncul, tradisi leksikografi Arab melewati beberapa tahap awal. Saehudin (2005) membagi perkembangan penyusunan kamus Arab ke dalam beberapa periode, dimulai dari pencatatan kata-kata gharīb al-Qur’an, yaitu kata-kata yang dianggap sulit atau asing dalam Al-Qur’an.
Tahap berikutnya adalah pengumpulan kosakata secara tidak beraturan. Para ahli bahasa pergi ke pedalaman Arab untuk mendengar langsung bahasa orang Badui yang dianggap masih murni. Mereka mencatat kata-kata, ungkapan, syair, dan dialek yang belum banyak tercampur pengaruh asing.
Setelah itu, muncul kamus-kamus tematik. Misalnya, kamus tentang kuda, unta, tumbuhan, senjata, hujan, atau bagian tubuh manusia. Kamus jenis ini belum menghimpun seluruh kosakata bahasa Arab, tetapi fokus pada satu tema tertentu.
Tahap puncaknya adalah penyusunan kamus sistematis. Di sinilah Kitāb al-‘Ayn karya al-Khalil menjadi tonggak besar. Setelah al-Khalil, tradisi kamus Arab berkembang pesat dengan berbagai metode dan sistem penyusunan.
Aliran atau Sistem Penyusunan Kamus Bahasa Arab
Dalam sejarah kamus bahasa Arab, istilah “aliran” bisa dipahami sebagai sistem atau metode penyusunan entri. Setidaknya ada beberapa sistem penting.
1. Sistem fonetik atau makhraj
Sistem ini dipelopori oleh al-Khalil dalam Kitāb al-‘Ayn. Entri disusun berdasarkan tempat keluarnya huruf, dari bagian terdalam tenggorokan hingga bibir. Sistem ini sangat ilmiah dari sudut fonologi, tetapi sulit digunakan oleh pembaca modern yang terbiasa dengan urutan alfabet.
2. Sistem taqlīb atau permutasi akar kata
Masih berkaitan dengan metode al-Khalil, sistem taqlīb mengelompokkan kemungkinan susunan huruf akar. Misalnya, tiga huruf akar dapat dibolak-balik untuk melihat kemungkinan bentuk kata yang ada atau tidak ada dalam bahasa Arab. Zaini (2004) mencatat bahwa metode ini berpengaruh besar terhadap penyusunan kamus setelah al-Khalil.
3. Sistem alfabetis berdasarkan huruf pertama akar kata
Sistem ini lebih mudah bagi pembaca karena mendekati urutan alfabet. Beberapa kamus kemudian menggunakan urutan huruf pertama akar kata, lalu huruf kedua dan seterusnya. Sistem ini menjadi semakin penting dalam perkembangan kamus modern.
4. Sistem qāfiyah atau huruf akhir akar kata
Sistem ini menyusun kata berdasarkan huruf terakhir dari akar kata. Salah satu tokoh penting dalam sistem ini adalah al-Jawhari melalui al-Ṣiḥāḥ. John A. Haywood menjelaskan bahwa sistem rima atau rhyme arrangement, yaitu pengurutan berdasarkan huruf akhir akar, pernah mendominasi dunia Arab hingga abad ke-19 dan memengaruhi leksikografi Persia serta Turki (Haywood, 1965).
Sistem ini juga dipakai dalam karya besar seperti Lisān al-‘Arab karya Ibn Manzur dan al-Qāmūs al-Muḥīṭ karya al-Fairuzabadi.
Lihat juga: Penerjemah dalam Sejarah Daulah Abbasiyah, Dari Bait al-Hikmah hingga Kemajuan Peradaban
5. Sistem alfabetis modern
Dalam sistem modern, kata disusun dengan cara yang lebih mudah dicari oleh pengguna umum. Springer Reference mencatat bahwa mulai pertengahan abad ke-20, para leksikograf Arab semakin banyak menggunakan susunan alfabetis lurus agar kamus lebih mudah diakses oleh pelajar dan pembaca umum (Hassanein, 2017). (Springer Nature Link)
Kamus-Kamus Besar dalam Tradisi Arab Klasik

Setelah al-Khalil, muncul banyak karya besar yang memperkaya tradisi kamus Arab. Di antaranya:
Jamharat al-Lughah karya Ibn Durayd. Kamus ini mencoba menyusun kosakata dengan pendekatan yang lebih mudah dibanding al-‘Ayn, meskipun tetap berbasis akar kata.
Tahdhīb al-Lughah karya al-Azhari. Karya ini penting karena banyak memuat bahasa Arab yang dikumpulkan dari masyarakat Badui dan sumber-sumber klasik.
Maqāyīs al-Lughah karya Ibn Faris. Kamus ini terkenal karena pendekatan semantiknya. Ibn Faris berusaha menemukan makna dasar dari akar kata, lalu menjelaskan hubungan antar-makna turunannya.
al-Muḥkam wa al-Muḥīṭ al-A‘ẓam karya Ibn Sidah. Ini termasuk kamus besar yang memuat kekayaan kosakata Arab klasik.
Lisān al-‘Arab karya Ibn Manzur. Kamus ini menjadi salah satu rujukan terbesar dalam bahasa Arab. Internet Archive mencatat edisi cetak Lisān al-‘Arab terbit di Bulaq, Mesir, pada 1883 dan mengaitkannya dengan Ibn Manzur, seorang ulama abad ke-13/14 M (Internet Archive, n.d.).
al-Qāmūs al-Muḥīṭ karya al-Fairuzabadi. Karya ini sangat populer hingga kata qāmūs kemudian sering digunakan sebagai istilah umum untuk kamus.
Saputra (2025) juga menegaskan bahwa tokoh-tokoh seperti Ibn Durayd, al-Azhari, Ibn Faris, Ibn Sidah, dan Ibn Manzur merupakan figur penting dalam perkembangan mu‘jam al-‘Arabiyyah dari periode klasik menuju periode berikutnya.
Jenis-Jenis Kamus Bahasa Arab
Seiring perkembangan kebutuhan pengguna, kamus bahasa Arab dapat dibagi ke dalam beberapa jenis.
1. Berdasarkan bahasa
Pertama, kamus ekabahasa, yaitu kamus Arab-Arab. Contohnya Lisān al-‘Arab, al-Qāmūs al-Muḥīṭ, dan al-Mu‘jam al-Wasīṭ.
Kedua, kamus dwibahasa, seperti Arab-Indonesia, Indonesia-Arab, Arab-Inggris, atau Inggris-Arab. Kamus jenis ini sangat penting bagi pelajar non-Arab.
Ketiga, kamus multibahasa, yaitu kamus yang memuat lebih dari dua bahasa.
2. Berdasarkan cakupan
Ada kamus besar yang sangat lengkap, seperti Lisān al-‘Arab. Ada kamus sedang untuk pelajar dan mahasiswa. Ada pula kamus saku yang ringkas dan praktis.
3. Berdasarkan bidang
Ada kamus umum dan kamus khusus. Kamus khusus dapat berupa kamus Al-Qur’an, kamus hadis, kamus kedokteran, kamus ekonomi, kamus politik, kamus sastra, atau kamus istilah linguistik.
4. Berdasarkan sistem penyusunan
Ada kamus berbasis akar kata, kamus alfabetis, kamus tematik, dan kamus digital berbasis pencarian langsung.
5. Berdasarkan media
Ada kamus cetak, kamus elektronik, kamus daring, dan aplikasi kamus. Di era digital, kamus tidak lagi terbatas pada buku tebal, tetapi juga hadir dalam situs web, aplikasi ponsel, dan basis data korpus.
Perkembangan Kamus Arab Modern
Periode modern membawa perubahan penting. Kamus tidak lagi hanya berfungsi menjaga bahasa klasik, tetapi juga harus menjawab kebutuhan zaman: sains, teknologi, politik, ekonomi, media, dan pendidikan modern.
Salah satu karya penting adalah al-Mu‘jam al-Wasīṭ yang disusun oleh Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah di Kairo. Open Library mencatat edisi al-Mu‘jam al-Wasīṭ terbit pada 1960 di Kairo dan dikaitkan dengan Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah (Open Library, n.d.).
Kamus modern berusaha lebih ramah pengguna. Banyak kamus mulai memakai sistem alfabetis biasa, menjelaskan makna kontemporer, mencatat istilah baru, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan.
Springer Reference juga mencatat bahwa kontak Arab dengan Eropa pada abad ke-19 memicu penciptaan banyak kosakata baru dan revitalisasi bahasa Arab standar modern. Pada masa kini, internet, media sosial, dan korpus digital semakin mengubah cara leksikografi Arab bekerja (Hassanein, 2017).
Kamus Arab di Indonesia

Di Indonesia, tradisi kamus arab berkembang seiring kebutuhan memahami Al-Qur’an, hadis, kitab kuning, dan literatur keislaman. Pada mulanya, kamus Arab di Nusantara banyak berbentuk Arab-Melayu. Kemudian berkembang menjadi Arab-Indonesia dan Indonesia-Arab.
Saputra (2025) menyebut beberapa karya penting dalam konteks Indonesia, seperti kamus Mahmud Yunus, Kamus al-Munawwir karya A. W. Munawwir, kamus Asad M. al-Kalali, serta kamus-kamus yang diterbitkan oleh lembaga pendidikan dan kementerian.
Kamus Arab-Indonesia memiliki karakter khas: praktis, pedagogis, dan dekat dengan kebutuhan santri, mahasiswa, penerjemah, serta pembaca kitab. Di pesantren, kamus seperti al-Munawwir menjadi rujukan utama karena kaya kosakata dan mudah digunakan untuk membaca teks klasik.
Baca juga: Peran Penerjemah dalam Restorasi Meiji, Jalan Ilmu yang Memodernkan Jepang
Pada era digital, kamus cetak tetap dipakai, tetapi mulai berdampingan dengan kamus daring dan aplikasi. Tantangannya adalah akurasi. Kamus digital memang cepat, tetapi tidak semua memberikan penjelasan konteks, akar kata, makna istilah, atau perbedaan penggunaan klasik dan modern.
Mengapa Kamus Bahasa Arab Tetap Penting?
Kamus bahasa Arab tetap penting karena bahasa Arab memiliki sistem morfologi yang khas. Satu akar kata dapat melahirkan banyak bentuk dan makna. Tanpa kamus yang baik, pelajar mudah salah memahami hubungan antara akar, pola, dan konteks.
Selain itu, bahasa Arab memiliki rentang sejarah yang panjang. Ada bahasa Arab klasik, Arab standar modern, istilah keislaman, istilah ilmiah modern, dan variasi dialek. Kamus membantu pengguna menavigasi semua lapisan itu.
Lebih jauh, kamus juga menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia menyimpan syair Arab, ungkapan Badui, istilah Al-Qur’an, hadis, istilah filsafat, sampai kosakata teknologi modern. Karena itu, kamus bukan hanya alat bahasa, tetapi juga arsip peradaban.
Sejarah kamus bahasa Arab adalah sejarah panjang upaya menjaga bahasa, memahami wahyu, dan membangun ilmu. Tradisi ini berawal dari kebutuhan menjelaskan kata-kata sulit dalam Al-Qur’an, berkembang melalui pengumpulan kosakata dari masyarakat Arab asli, lalu mencapai bentuk sistematis melalui Kitāb al-‘Ayn karya al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi.
Setelah al-Khalil, muncul berbagai sistem penyusunan: fonetik, taqlīb, alfabetis akar kata, sistem huruf akhir, tematik, hingga alfabetis modern. Masing-masing sistem mencerminkan cara ulama bahasa memahami struktur bahasa Arab.
Dari masa klasik hingga digital, kamus Arab terus berubah. Namun, fungsinya tetap sama: menjelaskan makna, menjaga bahasa, memudahkan belajar, dan menghubungkan generasi pembaca dengan khazanah ilmu yang sangat luas.
Bagi pelajar, penerjemah, editor, dan peneliti keislaman, memahami sejarah kamus Arab akan membuat penggunaan kamus lebih cerdas. Sebab, kamus bukan sekadar tempat mencari arti kata, melainkan pintu masuk menuju cara berpikir bahasa Arab itu sendiri.
Referensi
- Britannica Editors. (n.d.). Al-Khalīl ibn Aḥmad. Encyclopaedia Britannica. Retrieved May 16, 2026, from https://www.britannica.com/biography/al-Khalil-ibn-Ahmad
- Hassanein, A. T. (2017). The lexicography of Arabic. In P. A. Fuertes-Olivera (Ed.), The Routledge handbook of lexicography. SpringerReference. https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-3-642-45369-4_73-1
- Haywood, J. A. (1965). Arabic lexicography: Its history, and its place in the general history of lexicography (2nd ed.). Brill. https://archive.org/download/ArabicLexicographyItsHistoryAndItsPlaceInTheGeneralHistoryOfLexicography-JohnA.Haywood/Binder2_text.pdf
- Ibn Manzur. (1883). Lisān al-‘Arab (Vols. 1–2). Bulaq: al-Maṭba‘ah al-Kubrā al-Amīriyyah. https://archive.org/details/lisanalarab01ibnmuoft
- Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah, Cairo. (1960). Al-Mu‘jam al-Wasīṭ. Open Library. https://openlibrary.org/books/OL15325780M/Al-_Mu%27jam_al-wasit
- NYU Libraries. (n.d.). Al-‘Ayn. Arabic Collections Online. Retrieved May 16, 2026, from https://sites.dlib.nyu.edu/viewer/books/cornell_aco000133/1
- Saehudin, A. (2005). Tradisi penyusunan kamus Arab: Telaah kritis tentang sejarah leksikografi Arab. Al-Turāṡ, 11(3), 220–228.
- Saputra, A. (2025). Perkembangan mu‘jam al-‘Arabiyyah: Kajian historis tokoh dan lembaga dalam pengembangan bahasa Arab. Kartika: Jurnal Studi Keislaman, 5(2), 1018–1032.
- Zaini, H. (2004). Al-Khalil dan perannya dalam perkembangan kamus Arab. Adabiyyāt: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 1(3), 107–132.





