Sebuah Kisah Sunyi Sebelum Lahirnya Nabi
Dalam sejarah keluarga Rasulullah saw., nama Abdullah bin Abdul Muthalib memiliki tempat yang sangat istimewa. Ia bukan nabi, bukan pemimpin besar yang panjang usianya, dan tidak banyak peristiwa hidupnya yang tercatat secara rinci. Namun, dari dirinya lahirlah Nabi Muhammad saw., manusia yang kelak membawa risalah Islam.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Abdullah adalah peristiwa ketika ia nyaris disembelih oleh ayahnya sendiri, Abdul Muthalib. Kisah ini terdengar mengejutkan bagi pembaca modern. Bagaimana mungkin seorang ayah hendak menyembelih anaknya? Mengapa Abdullah yang terpilih? Bagaimana akhirnya ia selamat?
Kisah ini populer dalam literatur sirah, terutama melalui riwayat Ibn Ishaq yang kemudian disunting Ibn Hisyam. Karena itu, ia perlu dibaca sebagai riwayat sejarah-sirah: penting, masyhur, penuh makna, tetapi tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Ia bukan ajaran untuk meniru praktik nazar semacam itu. Justru, kisah ini memperlihatkan suasana masyarakat Arab pra-Islam, posisi keluarga Bani Hasyim, dan bagaimana takdir Allah menjaga garis keturunan Nabi Muhammad saw.
Abdul Muthalib Adalah Kakek Nabi Saw
Sebelum masuk ke kisah Abdullah, kita perlu mengenal ayahnya. Abdul Muthalib adalah kakek Nabi Muhammad saw., pemuka Bani Hasyim, dan tokoh Quraisy yang sangat dihormati di Makkah. Ia dikenal dalam tradisi sirah sebagai penjaga kehormatan Ka‘bah dan orang yang memiliki kedudukan penting dalam pelayanan jamaah haji.

Oxford Reference menyebut Abdul Muthalib sebagai kakek Nabi Muhammad saw. yang dikaitkan dengan penggalian kembali sumur Zamzam dan pengelolaan air bagi para peziarah Ka‘bah (Oxford Reference, n.d.). Sementara itu, SindoNews, mengutip Syamruddin Nasution, menjelaskan bahwa tugas menyediakan air bagi jamaah haji merupakan pekerjaan berat sehingga Abdul Muthalib membutuhkan banyak anak laki-laki yang kelak dapat membantunya (Yusufpati, 2024).
Dari sinilah latar kisah itu bermula. Abdul Muthalib pernah mengalami tekanan dari Quraisy ketika menggali Zamzam. Dalam riwayat sirah, ia lalu bernazar: jika kelak Allah memberinya sepuluh anak laki-laki yang tumbuh besar dan mampu melindunginya, ia akan menyembelih salah satu dari mereka di sisi Ka‘bah (Ibn Hisham, n.d.; Kristina, 2025).
Anak Abdul Muthalib dan Nazar yang Berat
Dalam riwayat populer yang dikutip NU Online, Abdul Muthalib akhirnya dikaruniai sepuluh anak laki-laki: al-Harits, az-Zubair, Hajl, Dhirar, al-Muqawwim, Abu Lahab, al-‘Abbas, Hamzah, Abu Thalib, dan Abdullah. Dari semua anak Abdul Muthalib, Abdullah disebut sebagai putra yang sangat dicintainya (Wijaya, 2022).
Ketika jumlah anak laki-lakinya genap sepuluh dan mereka telah tumbuh besar, Abdul Muthalib teringat nazarnya. Ia mengumpulkan anak-anaknya dan menyampaikan janji yang pernah ia ucapkan. Dalam riwayat Ibn Hisham, anak-anaknya tidak membantah. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan. Abdul Muthalib kemudian meminta masing-masing menulis namanya pada anak panah atau alat undian, lalu membawanya untuk diundi di dekat Hubal, berhala besar yang saat itu berada di sekitar Ka‘bah (Ibn Hisham, n.d.).
Bagian ini penting untuk dipahami. Peristiwa tersebut terjadi sebelum Islam datang. Masyarakat Quraisy masih memiliki praktik-praktik jahiliah, termasuk meminta keputusan melalui undian di sisi berhala. Karena itu, kisah ini tidak boleh dibaca sebagai pembenaran praktik ramalan atau pengundian nasib dalam Islam. Ia adalah potret sejarah masyarakat Makkah sebelum datangnya wahyu.
Ketika Nama Abdullah yang Keluar
Suasana pasti menjadi sangat tegang. Sepuluh nama telah dimasukkan. Abdul Muthalib berdiri di dekat Hubal, berdoa, dan menunggu hasil undian. Lalu keluarlah satu nama: Abdullah.
Nama yang muncul bukan anak yang jauh dari hatinya. Bukan anak yang kurang dicintainya. Justru Abdullah, putra yang paling disayangi dan kelak menjadi ayah Rasulullah saw.
Riwayat Ibn Hisham menyebut bahwa setelah nama Abdullah keluar, Abdul Muthalib menuntun putranya, mengambil pisau besar, lalu membawanya menuju tempat penyembelihan di dekat Isaf dan Na’ilah, dua berhala Quraisy yang dikenal pada masa itu (Ibn Hisham, n.d.).
Bayangkan suasananya. Di satu sisi ada seorang ayah yang merasa terikat oleh nazar. Di sisi lain ada seorang anak muda yang menjadi buah hati keluarga. Di sekelilingnya, orang Quraisy menyaksikan peristiwa yang bisa berubah menjadi tragedi besar.
Quraisy Mencegah Abdul Muthalib
Saat Abdul Muthalib hendak melaksanakan nazarnya, orang-orang Quraisy segera menghentikannya. Mereka berkata bahwa jika Abdul Muthalib benar-benar menyembelih Abdullah, kelak orang-orang lain bisa mengikuti jejak itu. Tradisi buruk akan terbuka. Anak-anak manusia bisa menjadi korban nazar orang tuanya.

Dalam riwayat yang dikutip detikHikmah, orang Quraisy memperingatkan Abdul Muthalib bahwa ia tidak boleh membunuh Abdullah sampai memiliki alasan yang kuat; jika ia tetap melakukannya, orang-orang akan meniru tindakan itu dan keadaan manusia akan rusak (Kristina, 2025).
Pernyataan Quraisy ini menarik. Meski mereka hidup dalam masyarakat pra-Islam, mereka tetap memahami bahwa penyembelihan anak adalah perkara yang sangat berbahaya secara sosial. Di sinilah kisah ini menjadi dramatis: bukan hanya tentang nazar seorang ayah, tetapi juga tentang masyarakat yang berusaha mencegah lahirnya tradisi kekerasan.
Sebagian keluarga dari pihak ibu Abdullah juga menawarkan tebusan. Mereka tidak rela Abdullah disembelih. Akhirnya, orang-orang menyarankan agar Abdul Muthalib menemui seorang perempuan ahli ramal di Hijaz atau Khaybar untuk mencari jalan keluar, sesuai tradisi mereka saat itu (Ibn Hisham, n.d.; Kristina, 2025).
Sekali lagi, bagian ini perlu dibaca sebagai konteks sejarah pra-Islam, bukan tuntunan agama. Islam kemudian datang menghapus praktik meminta petunjuk kepada berhala dan praktik ramalan.
Lihat juga: Perjuangan Ulama Menyusun Kamus di Kampung Badui
Abdullah Ditebus dengan Unta
Abdul Muthalib lalu pergi menemui perempuan tersebut. Setelah mendengar kisahnya, perempuan itu bertanya berapa nilai diyat atau tebusan jiwa yang berlaku di kalangan mereka. Mereka menjawab: sepuluh unta. Ia pun menyarankan agar dilakukan undian antara Abdullah dan sepuluh unta. Jika nama Abdullah yang keluar, jumlah unta harus ditambah sepuluh lagi. Begitu seterusnya sampai undian jatuh kepada unta (Ibn Hisham, n.d.).
Abdul Muthalib kembali ke Makkah dan mengikuti saran itu. Undian pertama dilakukan antara Abdullah dan sepuluh unta. Yang keluar tetap Abdullah. Maka jumlah unta ditambah menjadi dua puluh. Diundi lagi. Nama Abdullah keluar lagi. Ditambah lagi sepuluh. Begitu berulang-ulang hingga jumlah unta mencapai seratus ekor.
Barulah pada jumlah seratus unta, undian jatuh kepada unta. Orang-orang Quraisy yang hadir merasa lega. Mereka berkata bahwa Tuhan Abdul Muthalib telah menerima tebusan itu. Namun Abdul Muthalib belum puas. Ia mengulang undian sampai tiga kali. Hasilnya tetap jatuh kepada unta. Akhirnya, seratus unta itu disembelih sebagai tebusan bagi Abdullah (Ibn Hisham, n.d.; Wijaya, 2022).
Di titik inilah Abdullah selamat. Seorang anak yang beberapa saat sebelumnya hampir kehilangan nyawa kini kembali kepada keluarganya. Dan dari keselamatan itu, sejarah bergerak menuju peristiwa besar, yaitu kelahiran Nabi Muhammad saw.
Abdullah bin Abdul Muthalib dan Gelar “Dzabih”
Dalam sebagian literatur populer, Abdullah sering dikaitkan dengan istilah dzabih, yakni “yang hampir disembelih”. Ada pula ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada Nabi: “Aku adalah putra dua orang yang hampir disembelih,” yaitu Nabi Ismail dan Abdullah.
NU Online mengutip al-Mawardi dalam A‘lam an-Nubuwwah ketika menjelaskan makna ungkapan tersebut, yaitu hubungan antara Nabi Ismail as. yang ditebus dengan sembelihan besar dan Abdullah yang ditebus dengan seratus unta (Wijaya, 2022).
Namun, sebagian ulama hadis mempermasalahkan kekuatan riwayat ungkapan “anak dua dzabih” tersebut. Ada yang menjelaskan bahwa ungkapan itu memang diriwayatkan, tetapi ia tidak mengetahui kesahihannya; ia tetap menjelaskan bahwa yang dimaksud dua dzabih adalah Ismail dan Abdullah, dalam arti keduanya pernah berada dalam ancaman penyembelihan lalu ditebus.
Karena itu, lebih aman menyebut kisah Abdullah sebagai “riwayat sirah yang masyhur”, bukan menjadikannya dasar hukum atau klaim hadis sahih tanpa keterangan.
Apa Makna Kisah Ini?
Kisah Abdullah bin Abdul Muthalib saat hampir disembelih mengandung beberapa pelajaran penting.
Pertama, kisah ini memperlihatkan betapa kuatnya posisi nazar dalam budaya masyarakat Arab pra-Islam. Abdul Muthalib merasa terikat oleh janji yang pernah diucapkannya, meskipun janji itu sangat berat. Dalam Islam, nazar tetap dikenal, tetapi tidak boleh berupa kemaksiatan atau tindakan yang dilarang agama.

Kedua, kisah ini menunjukkan bahwa masyarakat Quraisy, meskipun berada dalam tradisi jahiliah, masih memiliki pertimbangan moral dan sosial. Mereka mencegah Abdul Muthalib karena khawatir perbuatannya menjadi preseden buruk.
Ketiga, kisah ini memperlihatkan perlindungan Allah terhadap garis keturunan Nabi. Abdullah selamat, menikah dengan Aminah binti Wahb, lalu dari rahim Aminah lahirlah Rasulullah saw. Britannica mencatat Abdullah sebagai ayah Nabi Muhammad saw., dan dalam tradisi Islam, Abdullah wafat sebelum Nabi lahir atau ketika Nabi masih sangat kecil (Britannica, n.d.).
Keempat, kisah ini memberi ruang bagi pembaca untuk memahami sirah secara lebih manusiawi. Sebelum Nabi lahir, keluarganya telah melewati peristiwa-peristiwa besar: penggalian Zamzam, nazar Abdul Muthalib, keselamatan Abdullah, lalu kelahiran Nabi pada Tahun Gajah.
Cara Membaca Kisah Abdullah bin Abdul Muthalib Hari Ini
Pembaca modern mungkin merasa gelisah dengan kisah ini. Itu wajar. Menyembelih anak jelas bukan tindakan yang dapat dibenarkan dalam Islam. Justru Islam datang untuk menghapus banyak praktik jahiliah dan menegakkan kehormatan jiwa manusia.
Karena itu, kisah ini sebaiknya dibaca dengan tiga kacamata.
Pertama, sebagai sejarah keluarga Nabi. Abdullah bukan tokoh biasa. Ia berada dalam jalur nasab Rasulullah saw., sehingga riwayat hidupnya mendapat perhatian besar dalam kitab-kitab sirah.
Kedua, sebagai gambaran budaya pra-Islam. Peristiwa undian di dekat Hubal, penggunaan anak panah, dan konsultasi kepada peramal menunjukkan suasana religius masyarakat Quraisy sebelum wahyu turun.
Ketiga, sebagai kisah tentang takdir. Abdullah nyaris disembelih, tetapi Allah menyelamatkannya. Dari keselamatan itu, lahirlah rangkaian sejarah yang membawa manusia kepada cahaya Islam.
Kisah Abdullah bin Abdul Muthalib saat akan disembelih ayahnya adalah salah satu kisah paling menyentuh dalam sirah sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw. Abdul Muthalib pernah bernazar akan menyembelih salah satu anaknya jika dikaruniai sepuluh anak laki-laki yang dapat melindunginya. Ketika jumlah tersebut terpenuhi, undian pun dilakukan, dan yang mengagetkan, nama Abdullah yang keluar.
Namun, orang-orang Quraisy mencegahnya. Setelah melalui proses pencarian jalan keluar menurut tradisi mereka saat itu, Abdullah akhirnya ditebus dengan seratus unta. Ia selamat, lalu kelak menjadi ayah Rasulullah saw.
Kisah ini bukan ajakan meniru praktik jahiliah. Sebaliknya, ia adalah pengingat bahwa sejarah besar sering dimulai dari peristiwa yang sunyi, genting, dan penuh rahasia takdir. Abdullah selamat bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi karena dari dirinya akan lahir manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Membaca kisah keluarga Nabi bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia membantu kita memahami bagaimana Allah menyiapkan sejarah, menjaga nasab Rasul-Nya, dan mengajarkan bahwa di balik ujian paling berat pun selalu ada hikmah yang tidak segera tampak.
Referensi
- Britannica. (n.d.). ʿAbd Allāh: Father of Muhammad. Encyclopaedia Britannica. Retrieved May 17, 2026, from https://www.britannica.com/biography/Abd-Allah-father-of-Muhammad
- Ibn Hisham. (n.d.). Abdul-Muttalib vows to slaughter a son. In Seerat Ibn Hishaam. Retrieved May 17, 2026, from https://kutubdeeni.net/seerat-ibn-hishaam/01/010e-abdul-mutallib-vows-to-slaughter-his-son.html
- Ibn Ishaq. (1955). The life of Muhammad: A translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah (A. Guillaume, Trans.). Oxford University Press. https://archive.org/details/TheLifeOfMohammedGuillaume
- Kristina. (2025, January 6). Kisah kakek Rasulullah bernazar sembelih satu anaknya di samping Ka’bah. detikHikmah. https://www.detik.com/hikmah/kisah/d-7718532/kisah-kakek-rasulullah-bernazar-sembelih-satu-anaknya-di-samping-kabah
- Oxford Reference. (n.d.). Abd al-Muttalib ibn Hashim. Retrieved May 17, 2026, from https://www.oxfordreference.com/display/10.1093/oi/authority.20110803095343353
- Serambi Muslim. (n.d.). Nazar Abdul Muthalib dan takdir Allah. Retrieved May 17, 2026, from https://serambimuslim.com/khazanah/nazar-abdul-muthalib-dan-takdir-allah
- Wijaya, M. T. (2022, October 17). Kisah Abdul Muthallib yang sempat bernazar sembelih ayah Rasulullah saw. NU Online. https://nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-abdul-muthallib-yang-sempat-bernazar-sembelih-ayah-rasulullah-saw-qXQyg
- Yusufpati, M. H. (2024, September 11). Kisah Abdul Muthalib bernazar mengorbankan salah satu anaknya. SindoNews Kalam. https://kalam.sindonews.com/read/1453475/70/kisah-abdul-muthalib-bernazar-mengorbankan-salah-satu-anaknya-1726042175





