
Sebelum membahas sejarah juru bahasa, mungkin kalau kamu sering menonton siaran sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau konferensi tingkat tinggi antarnegara, kamu pasti sering melihat orang-orang yang duduk di dalam bilik kaca, memakai headphone, dan berbicara tanpa henti mengikuti pidato para kepala negara. Atau, mungkin kamu pernah melihat pemandu jamaah haji kita di Makkah yang dengan luwes menawar barang di pasar pakai bahasa Arab pasaran.
Profesi mereka kita kenal dengan istilah juru bahasa lisan atau interpreter (dalam tradisi Arab klasik disebut Turjuman).
Mungkin kamu bertanya-tanya, sejak kapan sih profesi ini ada? Apakah baru muncul di era modern setelah ditemukannya mikrofon dan headphone? Jawabannya adalah sama sekali tidak.
Juru bahasa adalah salah satu profesi tertua di dunia. Jauh sebelum ada Google Translate atau teknologi AI (Kecerdasan Buatan), peradaban manusia yang sangat beragam ini bisa saling berinteraksi, berdagang, bahkan berperang dan berdamai, murni karena jasa para juru bahasa.
Sebagai akademisi yang sehari-hari bergelut dengan dunia bahasa, sastra Arab, dan penerjemahan, saya ingin mengajak kamu napak tilas. Kita akan membongkar catatan sejarah paling awal tentang interpreter, menelusurinya hingga ke era kejayaan Islam, pelabuhan-pelabuhan sibuk di Nusantara, hingga ke bilik-bilik canggih zaman sekarang.
Jejak Awal Profesi Juru Bahasa – Dari Gurun Pasir hingga Kekaisaran
1. Mesir Kuno (±3000 SM) – Ukiran Makam Sang “Pengawas Dragoman”
Banyak yang mengira bahwa catatan pertama tentang penerjemah berasal dari Yunani. Ternyata, jejak tertulis paling awal justru ditemukan di perbatasan selatan Mesir Kuno, tepatnya di kawasan Elephantine.
Berdasarkan riset dari Ingrid Kurz (1985) yang meneliti inskripsi di makam batu para pangeran Elephantine, ditemukan sebuah gelar kehormatan yang sangat spesifik, “Overseers of Dragomans” atau “Pengawas Para Penerjemah”. Dragoman sendiri merupakan istilah kuno untuk penerjemah atau pemandu (yang belakangan diserap dari bahasa Arab Tarjuman).
Mengapa Mesir Kuno butuh juru bahasa? Wilayah Elephantine berbatasan langsung dengan Nubia (sekarang wilayah Sudan). Firaun dan para pangerannya memiliki kepentingan dagang yang sangat besar, seperti emas, gading, dan kayu berharga dari selatan.
Karena orang Mesir tidak mau repot belajar bahasa Nubia (atau menganggap bahasanya terlalu agung untuk dicampuradukkan), mereka mempekerjakan penduduk perbatasan yang bilingual.
Juru bahasa di era ini bukan cuma tukang translate, mereka adalah diplomat garda depan. Tanpa mereka, diplomasi dan transaksi ekonomi Firaun dengan Afrika sub-Sahara akan lumpuh total.
Baca juga: Peran Penerjemah Di Masa Jaya Islam (Bani Abbasiyah)
2. Romawi & Yunani (±500 SM – 400 M) – Lidah Militer di Medan Perang
Bergerak ke era klasik, kita melihat ekspansi masif dari Kekaisaran Romawi. Romawi adalah mesin penakluk yang wilayah kekuasaannya membentang dari Eropa, Afrika Utara, hingga Timur Tengah. Tentu saja, bahasa ibu mereka (Latin dan Yunani) tidak dimengerti oleh suku-suku lokal di Galia (Prancis), Germania, atau Mesir.

Dalam artikelnya di jurnal Meta, Kurz (1993) menjelaskan betapa krusialnya interpreter dalam struktur militer Romawi. Berbeda dengan Mesir Kuno yang fokus pada perdagangan, tentara Romawi membawa juru bahasa ke medan tempur. Mereka bertugas dalam tiga hal utama:
- Interogasi Tahanan: Menggali informasi intelijen dari musuh yang tertangkap.
- Negosiasi Damai: Membicarakan syarat takluknya suatu wilayah tanpa harus melalui pertumpahan darah berlebih.
- Administrasi Publik: Saat suatu wilayah berhasil ditaklukkan, jenderal Romawi membutuhkan warga lokal yang bisa berbahasa Latin untuk mengatur pajak, hukum, dan birokrasi pemerintahan sehari-hari.
Ini adalah bukti bahwa pada masa lalu, menguasai dua bahasa adalah instrumen kekuasaan. Siapa yang menguasai bahasa musuh, dia yang memegang kendali informasi.
Era Kejayaan – Ketika Penerjemah Menjadi Bintang Peradaban
3. Peradaban Arab-Islam Klasik (Abad 7–12 M) – Era Keemasan Turjuman
Nah, ini bagian favorit saya. Kalau kamu belajar Sejarah Kebudayaan Islam, kamu pasti tahu masa Dinasti Abbasiyah, khususnya era Khalifah Al-Ma’mun yang mendirikan Baitul Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad.
Menurut sejarawan Dimitri Gutas (1998) dalam bukunya Greek Thought, Arabic Culture, dunia Arab-Islam memicu pergerakan penerjemahan paling masif dalam sejarah umat manusia.
Meskipun fokus utamanya sering disorot pada penerjemahan teks (tulisan) filsafat dan sains Yunani ke bahasa Arab, peran Turjuman (juru bahasa lisan) di lapangan sangat tidak bisa diremehkan.
Pada masa ini, juru bahasa bukan lagi profesi kelas dua. Mereka adalah sarjana berpendidikan tinggi yang digaji dengan emas seberat buku yang mereka terjemahkan! Dalam konteks diplomasi lisan, turjuman bertugas menjadi jembatan antara duta besar Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur), Kekaisaran Persia, dan Khalifah di Baghdad.
Lebih dari itu, interaksi lisan ini juga memfasilitasi dakwah penyebaran Islam secara organik. Lewat diskusi-diskusi lisan lintas budaya inilah lahir diskursus teologi (Ilmu Kalam) dan perkembangan awal dari ilmu Tafsir Al-Qur’an, di mana ulama perlu menjelaskan makna wahyu kepada mualaf-mualaf non-Arab dari Persia, Turki, dan Afrika.
Baca juga: Bangkitnya Jepang di Era Restorasi Meiji Melalui Para Penerjemah.
4. Nusantara Abad Pertengahan (Abad 13–16 M) – Kosmopolitanisme Jalur Rempah
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Anthony Reid (1988) dalam magnum opusnya, Southeast Asia in the Age of Commerce, menggambarkan bahwa Nusantara pada abad ke-15 (seperti Kesultanan Malaka, Banten, dan Samudera Pasai) adalah pusat peradaban yang super sibuk.
Bayangkan sebuah pelabuhan di mana kapal-kapal dari Arab, Persia, Gujarat, Tiongkok, dan Eropa berlabuh bersamaan. Di sinilah peran Syahbandar (kepala pelabuhan) sangat vital. Banyak dari otoritas pelabuhan ini menguasai berbagai bahasa atau mempekerjakan interpreter lokal yang fasih berbahasa Melayu lingua franca, Arab, dan Persia.
Juru bahasa lisan di masa ini memiliki fungsi ganda. Pertama, memfasilitasi cukai dan barter komoditas rempah. Kedua, dan ini yang paling krusial bagi sejarah kita, mereka menjadi fasilitator bagi para pendakwah (Wali Songo dan ulama Timur Tengah) untuk berinteraksi dengan adipati dan masyarakat lokal Nusantara. Proses Islamisasi di Indonesia yang damai sangat berhutang budi pada kecerdasan komunikatif para penerjemah lisan lokal ini.
Benturan Kolonialisme dan Lahirnya Sistem Modern
5. Era Kolonial (Abad 17–19 M) – Juru Bahasa VOC dan Dinamika Kekuasaan

Ketika bangsa Eropa datang untuk menjajah, dinamika bahasa berubah menjadi alat kontrol politik. Kees Groeneboer (1998) dalam karyanya Gateway to the West mencatat dengan apik bagaimana VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda) dan pemerintah kolonial Hindia Belanda sangat bergantung pada penerjemah lokal.
Di pengadilan Batavia (Jakarta), persidangan sering kali melibatkan tiga lapis bahasa, yaitu Hakim Belanda berbicara bahasa Belanda, saksi orang Arab atau Tionghoa, dan pribumi yang berbahasa Jawa atau Melayu. Pemerintah kolonial mau tidak mau harus mengangkat juru bahasa resmi (petecong atau penerjemah pengadilan) untuk memastikan hukum berjalan.
Namun, posisi juru bahasa di era kolonial ini sangat tricky. Di satu sisi, mereka diistimewakan oleh Belanda, tapi di sisi lain, mereka bisa menggunakan otoritas bahasanya untuk “membantu” atau bahkan “memanipulasi” kesaksian pribumi agar terbebas dari hukuman berat. Penerjemah lisan saat itu benar-benar menjadi jembatan hidup antara penindas dan yang ditindas.
Baca juga: Renaisans, Saat Penerjemah Menerangi Benua Eropa.
6. Pengadilan Nuremberg (1945–1946) – Lahirnya Interpretasi Simultan

Inilah titik balik yang mengubah wajah profesi interpreter selamanya. Setelah Perang Dunia II, negara-negara Sekutu (AS, Inggris, Prancis, Soviet) menggelar pengadilan militer internasional di Nuremberg, Jerman, untuk mengadili para petinggi Nazi.
Francesca Gaiba (1998) mendokumentasikan sejarah luar biasa ini dalam bukunya. Sebelum Nuremberg, juru bahasa menggunakan teknik consecutive interpreting (pembicara ngomong satu paragraf, berhenti, lalu penerjemah mengartikannya).
Masalahnya, sistem ini butuh waktu dua kali lipat lebih lama. Untuk mengadili puluhan penjahat perang dengan ratusan saksi dalam 4 bahasa (Inggris, Prancis, Rusia, Jerman), metode lama ini akan memakan waktu bertahun-tahun.
Solusinya? Sistem audio IBM. Untuk pertama kalinya, mikrofon dan headphone digunakan. Juru bahasa duduk di dalam bilik kaca, mendengar pidato bahasa Jerman dari headphone, dan di detik yang sama, mulut mereka harus menerjemahkannya ke bahasa Inggris dan lainnya melalui mikrofon. Teknik ini melahirkan Simultaneous Interpretation (Interpretasi Simultan).
Dengan menggunakan paten teknologi modifikasi dari IBM, ruang sidang saat itu dipasangi kabel sepanjang bermil-mil dan sekitar 600 pelantang telinga (headset).
Setiap peserta sidang, baik hakim sekutu, jaksa, terdakwa Nazi, maupun wartawan, dapat memutar selektor saluran agar dapat memilih bahasa yang mereka pahami. Saluran 1 untuk suara asli pembicara, sedangkan saluran 2 hingga 5 untuk hasil terjemahan langsung.
Tingkat stres mental (beban kognitif) yang dialami para pionir di Nuremberg ini luar biasa gila. Mereka harus mendengarkan kejahatan perang yang mengerikan sambil merajut sintaksis yang berbeda secara real-time. Keberhasilan sistem inilah yang menjadi cikal bakal standar konferensi dunia saat ini.
Baca juga: Mencari Jalan Menjadi Penerjemah Tersumpah.
Konteks Modern dan Kedekatan dengan Tradisi Kita
7. Era Modern (1946–sekarang) – PBB dan Standarisasi Profesi

Pasca Nuremberg, metode simultan langsung diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat lembaga itu didirikan. Baigorri-Jalón (2004) menulis sejarah panjang bagaimana PBB akhirnya menstandarisasi profesi ini.
Di PBB, juru bahasa bukan lagi sekadar orang yang kebetulan bisa dua bahasa. Profesi ini menjelma menjadi disiplin ilmu yang sangat ketat. Mereka harus melewati sekolah khusus, tes yang sangat sulit, dan menguasai glosarium (kamus istilah) mulai dari hukum laut internasional, pelucutan senjata nuklir, hingga hak asasi manusia.
Aturan durasi kerja pun diberlakukan secara ketat (biasanya satu orang maksimal menerjemahkan selama 20-30 menit secara simultan sebelum digantikan rekan setimnya, demi mencegah kerusakan otak karena beban kognitif yang ekstrem).
Sistem di PBB ini kemudian menjadi gold standard (acuan emas) bagi Uni Eropa, ASEAN, dan berbagai organisasi internasional hingga detik ini.
8. Indonesia – Timur Tengah (Abad 20–21 M), Sang Mutawwif Pemandu Haji

Sebagai penutup sejarah, mari kita bawa pembahasan ini kembali ke realitas masyarakat kita. Interaksi modern antara Indonesia dan negara berbahasa Arab tidak hanya terjadi di meja diplomasi, tapi sangat masif terjadi di sektor ibadah, yaitu Haji dan Umrah.
Sejarawan Eric Tagliacozzo (2013) dalam The Longest Journey membahas secara epik arus pergerakan manusia dari Asia Tenggara ke Makkah. Dalam perjalanan spiritual ini, jamaah haji kita mayoritas tidak berbahasa Arab. Di sinilah figur Mutawwif (pemandu jamaah) atau Syekh mengambil peran ganda.
Mutawwif bukan hanya sekadar juru bahasa yang membantu jamaah berbelanja di Pasar Seng atau mengurus administrasi di imigrasi Jeddah. Mereka adalah juru bahasa spiritual (penerjemah budaya dan agama).
Mereka harus bisa menjelaskan konteks historis tempat suci, membimbing doa, dan menjembatani budaya orang Jawa/Bugis/Sunda dengan birokrasi Arab Saudi yang kaku. Profesi ini membuktikan bahwa juru bahasa lisan bukan cuma soal memindahkan kata, tapi soal merawat rasa aman, kenyamanan, dan khusyuknya ibadah seseorang di tanah asing.
Ide Penelitian Terkait Juru Bahasa (Interpreter)
Buat kamu mahasiswa PBA (Pendidikan Bahasa Arab), Sastra Arab, atau Linguistik Terapan yang sedang pusing mencari judul penelitian, melihat rekam jejak panjang sejarah juru bahasa ini seharusnya memercikkan banyak ide segar.
Berikut 3 ide riset spesifik yang bisa kamu angkat, karena topik ini masih jarang banget disentuh di kampus-kampus Indonesia!
1. Analisis Beban Kognitif (Cognitive Load) pada Simultaneous Interpreting Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia

Struktur kalimat bahasa Arab (seringnya diawali dengan Fi’il/kata kerja) sangat berkebalikan dengan bahasa Indonesia (S-P-O). Bagaimana strategi juru bahasa profesional mengatasi delay atau lag sintaksis ini saat menerjemahkan pidato diplomatik secara langsung? (Bisa gunakan pendekatan psikolinguistik).
2. Peran Mutawwif sebagai Pialang Budaya (Cultural Broker), Studi Kasus Komunikasi Lintas Budaya Jamaah Haji Lansia
Penelitian ini bisa berfokus pada teknik kompensasi, penghilangan (omission), atau penambahan makna yang dilakukan oleh pemandu haji saat mengartikan instruksi dari aparat militer Arab Saudi kepada jamaah lansia Indonesia yang hanya paham bahasa daerah.
3. Jejak Kosakata Serapan Melayu-Arab di Era Pelabuhan Nusantara, Tinjauan Filologi-Sosiolinguistik Juru Bahasa Kesultanan Banten/Aceh
Menelusuri manuskrip atau catatan sejarah (seperti Tuhfat al-Nafis atau arsip VOC) untuk melihat strategi interpreter lokal di masa lalu dalam merumuskan padanan kata untuk istilah hukum dagang dan syariat Islam yang baru masuk ke Nusantara.
Penutup
Sejarah panjang dari makam Firaun hingga bilik kedap suara di PBB ini mengajarkan kita satu hal penting, bahwa seorang juru bahasa adalah detak jantung dari diplomasi manusia.
Mereka adalah sosok-sosok tak terlihat yang menahan beban terberat. Sekali mereka salah menerjemahkan sebuah kata (misalnya kata yang bermakna ganda), sebuah perjanjian damai bisa batal, seseorang bisa dihukum gantung, atau hubungan dua negara bisa hancur berantakan.
Oleh karena itu, skill menerjemahkan lisan tidak bisa hanya mengandalkan “bisa ngomong cas-cis-cus”. Butuh penguasaan budaya, kecerdasan emosional, respon refleks yang kilat, dan wawasan setajam silet.

Bagi mahasiswa yang sedang belajar bahasa asing, jangan patah semangat. Kamu sedang mempelajari skill yang usianya sudah ribuan tahun dan telah membentuk peradaban umat manusia seperti yang kita kenal sekarang. Teruslah berlatih, dan jangan pernah berhenti membaca!
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu pernah mencoba menerjemahkan perkataan orang secara real-time dan merasa otakmu mau berasap? Atau kamu punya cita-cita jadi interpreter di instansi internasional?
Daftar Referensi
- Baigorri-Jalón, J. (2004). Interpreters at the United Nations: A History. Ediciones Universidad de Salamanca.
- Gaiba, F. (1998). The Origins of Simultaneous Interpretation: The Nuremberg Trial. University of Ottawa Press.
- Groeneboer, K. (1998). Gateway to the West: The Dutch Language in Colonial Indonesia. Amsterdam University Press.
- Gutas, D. (1998). Greek Thought, Arabic Culture: The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early ‘Abbasid Society. Routledge.
- Kurz, I. (1985). The Rock Tombs of the Princes of Elephantine: Earliest References to Interpretation. Babel, 31(4), 213-218.
- Kurz, I. (1993). Interpreters in Ancient Rome. Meta: Journal des traducteurs, 38(4), 597-601.
- Reid, A. (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. Yale University Press.
- Tagliacozzo, E. (2013). The Longest Journey: Southeast Asians and the Pilgrimage to Mecca. Oxford University Press.





